Jumat, 25 Oktober 2013

Barisan Taman Kata, Herdoni Syafriansyah

         Di dalam Antologi Puisi : Aku Burung dan Kau Pisau yang Berputar

1
hari itu: rambutmu tak akan lagi berkibar, mungkin cintamu pun
telah pudar
aku hanyalah kumpulan pasir, butiran-butiran kecil mimpi yang tak
sampai

2
betapa bahagianya selalu memiliki kenangan

3
tetapi, pada akhirnya, adalah rindu yang telah membuat langkahnya
berpaling jua

4
di langit pelangi masih tersenyum kepada tuhan

5
kulihat jelas relief senyum bertulis bahagia di wajahmu
dan tulisan itu pun perlahan muncul menghiasi wajahku

…. , demi tulisan di wajahmu aku berharap
: kokohkan selalu senyum itu –untuk burungburung dan
pelangi di jantung pintu;

6
menantikanmu serupa menjerang sebelanga air dengan
matahari; tak jelas berapa banyak sudah butirbutir keringatku yang
jatuh menetes: setiap tetes demi tetes selalu aku teliti, barangkali—
dalam pencarianku, dalam penantian itu, aku akan melihat kamu.

7
sekian jauh tetes keringatku yang jatuh menantimu
berlayar sendiri, kini tetesan itu menjadi bening air
yang memupuk tunas jiwa dan cintamu dalam dirimu

8
bersamaku kamu akan melangkah. dalam
tiap-tiap jalan dan aliran waktu, mengemudi biduk menghadapi
godaan dan terpaan yang menerjang menderu. tapi, demi hati kita
harus berani bertaruh, bertahan, dan maju

9
cinta menjadikan mungkin, bahkan kepahitan
hidup terasa lebih manis; lebih mabuk.

10
jangan cemas terhadap hujan sebab kita adalah ikan. jangan
cemas terhadap ketinggian sebab nyala kasih kita adalah sayap yang
akan membawa kita terbang; menatap indah alam-alam dan nyala
warna-warni bunga di taman serta hutan.

11
cinta memang absurd, tapi tak penting kita memikirkan
segala hal dengan benar. suatu pagi, aku ingin terbangun dengan
menatapmu di sampingku.

12
kamu.menangis, kamu tertidur, kamu tertawa, kamu bersedih, kamu
tersenyum, kamu pergi, kamu terbang, kamu berenang menjadi
ikan, kamu menjadi bunga, kamu menanti, kamu pecah, dirimu berderai ke udara, menjadi uap menjadi embun, menjadi beku, menjadi segalanya,
menjadi ratu, menjadi burung, menjadi putri, menjadi duyung,
menjadi apa, menjadi apapun… apa pun aku di sampingmu, alin.

13
aku melihatmu tapi kau tak dapat melihat

14
percik-percik kenangan. sekerat duka dan tawa yang tersisa. kau
telah lenyap bersama waktu yang menguap. sayap dan cahayamu
tiada lagi aku lihat. aku pernah melihatmu di sini, tapi kau tak
pernah bisa melihatku.

15
pelangi di malam hari, terasa indah sekali

16
debar rindu itu bergetar, cinta paling kuasa di dalam dada

17
semoga bisa jatuh hati setiap hari, saling sayang dan cinta sepanjang masa,
sepanjang hati bisa.

18
maka sayangilah apa yang ada

19
aku pisau yang berputar, terbang dan siap menghujam
apiku nyala, lidahku lancip kata, dan pelukku mesra cinta.

20
hanya untuk satu hari, untuk kamu aku sayangi

21
kita pernah belajar diam, kita pernah belajar kesusahan. namun kita
tak pernah belajar untuk siap menghadapi perpisahan.

22
apalah artinya keindahan dan kesenangan bila akan ada
hati yang terpisahkan? bila tiada bahagia kita dapatkan?

23
bila nanti kau membuka mata –kepompongmu pecah- dan kau
mendapati nyawaku tiada, maka pahamilah hatiku ini. aku yang
selalu sayang kamu. sesungguhnya, aku ingin kita bisa bersama lagi
walau hanya satu hari.
………………

24
masa depan dan harapan adalah taruhan hidup yang kejam

25
angin tibatiba menampar daun
yang lemah pasti akan gugur

26
dan angin itu masih berlayar
mengirim salam risau mencari kabar
walau tak akan habis derita didengar

27
belajarlah menghargai pada setiap kehilangan

28
mawar yang indah pun punya duri
bukan tujuan melukai tapi demi melindungi
bila tak sebab sayang maka ibu tak akan pergi

29
kepada anakku, belajarlah menghargai setiap yang terjadi


30                                                  
menjadi lelaki haruslah berani
siap susah dan mampu redam nestapa

31
lelaki itu meredam kepedihan
keterlukaan sarapan dihatinya
hingga ia berkawan pada pedih itu
hingga tawar percuma luka itu

32
lelaki itu pembawa kebahagian
yang ia tabur pada tanah kesedihan

33
hai pohonpohon yang teduh
lindungi raga rapuhnya dari ganasnya cinta
agar ia tidak menjadi abu

34
hai sungai yang mengalir
satukan tangisnya dalam arusmu
agar tak lagi menetes sedih hatinya

35
ayuhai taman tersiram hujan
hibur lirih hatinya akan indahmu
sebab lumpuh telah mencuri bebasnya
hingga ia cuma sanggup memandang

36
duhai hati yang mendengar
kuhanya mampu kirim doa
sebab harta-Nya tiada dapat aku beli

37
debu terkibas angin; terpental tak berarti
maratah tulang sendiri: rasanya sakit hati

38
pagi telah pergi tiada berarti; sisa hidup penuh caci dan benci
malam gelap penuh duri; tiada yang lebih gelap lagi

39
berkibar dingin dan keteduhan; meresap cinta dan
kebanggaan, ia mati dalam perlawanan; perjuangan

40
dalam doaku, kepada pemimpin yang baik semoga diberkati
sedang kepada yang tak berhati: pisau tuhan paling mata

41
Puisi bagi Penyair

aku burung dan kau sayapku
aku layar dan kau perahuku

42
berlayarlah … melajulah ….
jangan takut melihat badai
sebab kita adalah lautan

43
kau cinta yang telaga, gadis cerlang purnama

44
kau senja yang pesona
aku bunga mekar di dada

45
jarak telah jauh ditinggalkan; luka telah nganga hingga kapalan dirasakan
derita telah dipatahkan hanya kepada cinta ia mekarkan

46
bersabarlah menjalani hidupmu kini, dalam penderitaan; ketakberdayaan
terkadang cinta dan ketulusan justru akan lebih mudah hadir untuk kau temukan

47
tak selamanya gelap akan menyelimuti raya
hidup adalah perjalanan, juga permainan

48
dalam ketakberdayaan; kesusahan
akan lebih mudah kau resapi kehidupan
akan lebih mudah kau dapatkan ketulusan
akan hadir indah hidup yang kau nantikan

49
sejenak resapilah hidupmu. kelak dimasa datang
andai engkau sanggup bersabar dan bertahan,
semua derita dan ketidakadilan yang kau rasakan
sesungguhnya adalah lelucon untuk kau tertawakan
karena, aku pernah menjadi burung sepertimu

50
burungku senang sekali hidup di zaman ini, zaman di mana saudara
sebangsanya selalu mati setiap hari; di mana burungburung selalu
diburu tak pernah henti

51
alangkah syahdu dan cantiknya ketulusan

52
selengkung senyum, selalu akan ada harapan dan kebahagiaan

52
dalam jarak dan kerinduan: menghujan airmata
hanyalah sesak yang tak dapat terkata

53
ada yang tak bisa terkatakan, semacam rasa riang
semacam bahagia yang meletup tapi tersedak tertahan

54
banyak cinta yang terabaikan dalam senang. berpayah dan bersusah,
hanyalah untuk bagian cinta yang hilang; yang terasing dan diabaikan

55
betapa tidak hati menghujan airmata
bila merindukan kenangan dan jauh keluarga yang terpisah

56
puisi sesungguhnya lembut bagaikan bibir seorang wanita
puisi adakalanya tajam bagaikan pisau yang menyayat hingga
berdarah

57
puisi adalah kasih adalah benci
puisi adalah peluru adalah perahu

58
puisi adalah sakit yang mewakilkan
adalah wakil yang menyampaikan
juga cinta yang memberikan; kata yang merelakan

59
di dalam jiwa pena, puisi adalah kata segala jelma, yang digoreskan
oleh mata yang mencintainya

60
andaikan tak ada kesedihan; tak ada pedih lara;
dunia indah bertabur bahagia, lalu burungburung bersuka ceria
apakah lagi yang hendak diburu?

61
andaikan tak ada kesedihan; tak ada pedih lara;
dunia bahagia bertabur suka, lalu orangorang bersuka ceria
untuk apa lagi sakit dan kebencian?

62
andaikan tak ada kesedihan; tak ada pedih lara;
dunia bersuka penuh warna, lalu anakanak ceria bernyanyi—menari
apakah masih hendak menumpahkan tangis dan darah?

63
kasihi dan sayangilah anak impian kita

64
segala punya makna bahkan walau tak bernama

65
suatu persahabatan yang indah, mampu merinaikan penuh banyak kisah
                                                                                  
66
seribu bidadari hadir di sini, masih lebih baik andaikan sahabat sejati yang menemani

67
adalah—sebuah rasa, bersaudara: satu adalah seluruh; seluruh adalah satu

68
mengapa ada orang yang tidak suka bersama? barangkali adalah ambisi, benci atau dengki. tapi kami adalah burungburung yang terhormat, yang lebih riang bila bersama;
bila berdekat, bersahabat

69
segala cerita adalah sebab rasa. barangkali juga, rasa adalah sebab dari segala cerita

70
ada cerita di dalam rasa, ada rasa di dalam cerita

71
terkadang dunia bukanlah tempat yang indah untuk burung yang tak berpunya

72
rasa yang dingin sehabis hujan, maka beruntunglah mereka yang
bisa pulas rebah mengukir senyum berselimut hangat

73
kenanglah bumi sebelum engkau pergi ke langit.
kenanglah setitik air sebelum engkau menjadi lautan
kenanglah kebersamaan sebelum tiba kepergian
kenanglah aku bila engkau sungguh ingin pergi

74
kenanglah cinta sebelum tiba bencimu
kenanglah senyum bila datang amarahmu
kenanglah tangis bila datang sedihmu
kenanglah hujan dalam panasmu
                     
75
kenanglah yang terjadi sebab ia pasti akan pergi
kenanglah semua cinta yang pernah singgah
kenanglah kebersamaan yang pernah ada
kenanglah sedih yang pernah terjadi
kenanglah duka dalam cinta
kenanglah apa yang pernah tercipta
kenanglah ada sebelum tiada

76
tapi, sebelum mengenang semua itu
marilah kita mendirikan sayang

77
terkadang, arah angin memang dapat dibaca, namun, terkadang
pula tak selalu sesuai kira. adakalanya gelombang yang datang
ternyata lebih kencang sehingga dapat membuat angin bergeser
haluan : menyimpang dari perkiraan

78
beberapa tahun telah berlalu, banyak sudah nasib waktu yang tandas di bibir gelas

79
lintang pahit kehidupan, sakit pedih yang meresap, janganlah
terputus patah semangat

80
burungburung yang cacat, burungburung tanpa sayap, ada cinta yang walau
setitik tak pernah pergi dalam hidup; yang menyayangimu. mungkin tuhanmu,
mungkin ibu-ayahmu, mungkin sesiapamu, mungkin pula impianimpianmu

81
burungburung yang kekurangan, hiduplah selalu dengan segala harapan baikmu
suatu harapan yang baik, laksana cahaya yang menyala dalam gelap kehidupan

82
kau adalah lidahku untuk bicara
kau adalah cintaku dalam kata
kau adalah sayapku untuk mengudara
kau adalah segala risauku yang tertumpah
kau adalah pisau terindah dalam luka

83
ketika datang fajar yang baru
menangislah kita bersama
melupai segala kata
mencari senyum yang tak ada

84
hanya tangis dan senyum
di dalam sepi

85               
tumbuhlah engkau menjadi kata yang baik; kata yang punya
cinta dan rasa, yang punya hati dan kasih. tolonglah orangorang
dipersimpangan lelah. bantu dan doakanlah burungburung yang
susah. jadilah engkau kata yang sebenarnya kata, tumbuhlah anakku.


SEKIAN #

Senin, 31 Desember 2012


aku pisau yang berputar, terbang dan siap menghunjam. aku kapal yang berlayar, dengan hembusan angin aku melaju. kau karang yang diam, terhempas-hempas lidah gelombang. kau telaga yang teduh, aku berendam dalam tubuhmu. apiku nyala, lidahku lancip kata, dan pelukku mesra cinta.

aku angin yang bicara, aku kata yang mata, aku ungkap yang siap. pisauku pisau puisi, karangku karang puisi, telagaku telaga puisi, jiwaku jiwa puisi. tegakku puisi, rebahku puisi, tubuhku puisi. puisiku berlayarlayar mengorek kedalaman jiwamu.


-"Pisau Mata Puisi" oleh Herdoni Syafriansyah

Senin, 10 Oktober 2011

Puisipuisi Syafriansyah, Lokalitas

Pagi Hari di Pinggiran Sungai Musi

Gemericik deras air sungai musi
Putih dingin butir embun di pagi hari
Di seberang sungai alam-alam permai menghijau
Mentari perak; burungburung bernyanyi ceria

Sekayu, 16 Desember 2011



Di Suatu Malam yang Tenang

Seperti gelora malam yang tenang, hamparan bintang berserakan.
Di atas langit keunguan menjulang; kecipak air sungai musi di bawah. Kelapkelip lampion kapal, kilau cahaya menggelombang di muka air; malam yang penuh keteduhan.

Juga daratan dalam diamnya; dingin meresapi pori bebatuan, deretan panji berderai lembut, mercusuar menyeduh kilau, sedang di sana –kubayangkan anakanak burung yang manis telah lelap tertidur.

BKB, 01-01-2012, 02.07




Menikmati Alam Jembatan Musi

Teduh alam daerah Sekayu
Burung belibis terbang ke hilir
Sulur emas senja menyapu daundaun hutan yang hijau
Di bulan Desember, Sungai Musi keruh mengalir dengan dingin

Orangorang yang mandi di batang tepian
Ketek dan perahu sesekali melintas di bawah jembatan

Sungai berkelok mengalir patah;
Orangorang berlalu dalam waktu
Sinar matahari yang perlahan sekarat
Perlahan angin berhembus dengan lembut
Sedang senja terlukis semakin tipis

Sekayu, 24 Desember 2011



Pelangi Pada Sebuah Senja

Di tempatku ini bernapas terasa nikmat
terbuai waktu yang bertalu penuh rahmat
menatap senja dengan megamega berarakan dekat
meluluhkan resah penat yang melekat

Di tempatku ini menerawang terasa tenang
semilir mengelus raga hidupku senang
kenangan di hati indah menggenang
rela

air mengalir beriak tanpa suara
alamku yang tertawa
ketenangan sore yang terhormat
nyanyian musi yang mendayu
alamku yang cantik nan ayu
pada sebuah senja di kota Sekayu

Sekayu, 2010

Senin, 03 Oktober 2011

Puisipuisi Syafriansyah, Horison 2012

Dimuat Majalah Sastra Horison Edisi Januari 2012

KETIKA HARIMU KETIKA HARI MAU MENJEMPUTMU

sesuatu jatuh ke bumi
tanah berlubang sangat besar
sesuatu menghempas bumi
makhluk lari berpencar-pencar
sesuatu meledak dari bumi
mereka menjerit menawar
waktu yang berputar

O
mereka yang datang
siapa?
O
mereka yang gemetaran
siapa?

mereka yang senang
siapa?
hai!
mereka yang berpulang
siapa?

mereka berlutut mengucap seribu do’a
mereka bersujud merapal seribu mantra
mereka merinai kata merayu sukma
ah, tapi percuma!

Kami
letuskan gunung-gunung
di bumi

Kami
hamburkan panas lidah api
pada mereka

Kami
tindihkan hujan api
tiada celah

mereka
mengucap
kata
doa
matra

ah, percuma!

Kami telah luapkan lautan
Kami telah benamkan dataran
Kami telah usaikan kekuasaan
kesepian
setan!

hanya
kepada mereka
yang senang

Kami
pulangkan
ke asal senang

(Sekayu, 13 Oktober 2011)



Mengguncang Pesona

Na liluli
Na liluli
Na liluli

berdegar langit berguncang
berdebur laut berguncang
beratak tanah menggelegar
gunung berguncang, petir
mengguncang pesona

tung ketutung
tang ketitung
idang
idung
idang
idung na liladung

sepuluh jiwa kencana
sejuta jiwa pendosa
mengguncang langit
menghempas laut
kembali
kami
kepada
Ilahi

na liluli
na liluli
na liluli
sya
sya
sya
sya
sya
sya

mengguncang
pesona
kalbu
dan
sukma

puncak pucuk puncak pucuk
puncak selasih pucuk selasih
sepuluh selasih mengguncang daya
sejuta kasih mengguncang raya
sepuluh kekasih di dalam surga
kalian
kembali
kepada
Kami

“famay-ya’mal mitsqaala dzar-ratin khairay yarah
wa may-ya’mal mitsqaala dzar-ratin syarray yarah”(*)

(Sekayu, September 2011)

Cat: *Surat Az-zalzalah (keguncangan) ayat 7-8.



Kembang Pengantin

wahai kaukau gadis yang kurindu
terikat lahir hatimu terbelenggu

kembang suka
masuklah!

kembang cinta
hiduplah!

asap rindu
dekaplah!

haaaaiii
yaaahuuu

haaaiii yaaahuuu

haaaiii
yaaahuuu

dibawah asap api kau kukendali
dibangun dan tidur kau
pada siang dan malam kau

tiada ingat kau selain aku

huuussssss
huuusssss
huuusssss

(Sekayu, 14 Oktober 2011)



WASIAT

kita kembali ke
medan perang
kecipakkecipak warna
hujan
api bertaburan

mengharap
kejatuhan
bulan
langit
pekat biru
cakrawala
mengungu
basah semesta
pada kecupan fana
awangemawan menyibak langit

orangorang langit tengah berpesta

suatu
ketika
seorang
nabi
membawa
getir
keringat hujan dari
asal nelangsa biru lautan
ia berlari memecah perih dalam
dahaga memapas putir titiran mega
menjungkir singkir jungkir angin kelana

orangorang langit tengah berpesta
langit pekat hadirkan perjamuan
putri rembulan menari dalam cakrawala
bidadari jelita bersenandung renyah sukasuka
iblis terkekeh dari neraka

“kalian semua sama!!” kata Allah
“ya!!” kata pohonpohon
“tiada beda pangkatharta” kata Allah
“ya!!” kata pohonpohon
“kuseru kalian berperang…”
“ya” kata mereka

jati, merbau, temesu, sungkai,
bungur, kemutun, ketiau, seru,
gelunggang, medang, pelai, racuk.

Kupanggil yang beriman di antara kalian
untuk berperang, menebas sawang di langit hati
melawan iblis yang tak matimati

merentanglah si dahandahan
merancaplah doadoa pengharapan

mereka sedang berperang
mereka selalu berperang
pun nanti selalu berperang

orangorang langit tengah berpesta
langit pekat hadirkan perjamuan
putri rembulan menari dalam cakrawala
bidadari jelita merinaikan gita

:
inilah hidup inilah warna
untuk terjadi dan akhirnya
pada sebelum lalu kemudian
pada jalan dan tujuan

inilah hidup inilah warna
untuk dilalui kalian semua
pada pilihan pada keinginan
pada apa yang diharapkan

hidup hanya mengulang kisah
menanti lelah dalam sejarah
bila tiada pandai ia mengakali
terpuruklah ia mati sendiri

inilah hidup inilah warna
pada badan penuh luka
inilah hidup inilah warna
untuk dilalui kalian semua


iblis terkekeh dari neraka
merentanglah si dahandahan
merancaplah doadoa harapan

pukul lesak genderang ditabuh
sembilu angin merisau sendu
perang dan selalu berperang
tiada lagi mufakat qalbu
…………………………....................................

sungguh, hanyalah tuhan
kamus makna segala tahu!

( Sekayu, 28 Juli 2011 )


NB: Puisi ini mempunyai kekuatan tipografi, tapi sayang Blog tidak bisa menanmpilkan tipografinya.

Sabtu, 01 Oktober 2011

Puisipuisi Syafriansyah, TSI IV Ternate

AKU SEKEDAR

: Nda

kutaburkan jarijemari di atas pasir
terbagi sama sebagaimana kuberharap ia
adil mengusap geraimu
kutitipkan mata ini pada delapan mata angin
kelak aku ‘kan selalu tahu bagaimana
keadaan kamu
kuterjemahkan ribuan bahasa untuk
membantu lidahmu mengucap
kuajarkan rasa sakit, rasa lapar,
perpisahan, sebab akutahu kepadanya-lah
kau bisa meraba kasih itu
akulah ibumu
akulah ayahmu
akulah gurumu
akulah tuhanmu
aku!! kekasihmu
kamu tahu. dengan apapun aku menjaga kamu
patah-lebur-patah-lebur berjuta
jiwaku, yang tersisa tetaplah kuat.
kelak, kamu aku selalu mendekap.

-Sekayu, 2 Mei 2011



Sajak Anak Duka

wahai kau yang duduk di sana
tidur berhias bunga kemeja
lidah menjulur menjilat muka
daun berbisik: laraluka

tikus di sampah ludahi muka
anak duka melempar sekolah
anak bangsa kaiskais sampah
sampah cintamu sekerjap kata
katamu terkuras selesat cahaya
cahayamu sekerjap kerjap binasa

wahai kau yang duduk di sana
tertawa bersuka tanpa luka
tataplah senyuman mereka berduka
berikan canda seutas cinta
berikan sebening kolam telaga

mereka jelita putik indonesia
lapar dahaga gula airmata
mereka jelata putik bangsa
mengalir nama satu darah
rumpun pertiwi sekerjap kerjap binasa

wahai kau yang ada di sana
putik indonesia meluruh derita
mengejar mimpi mereka terbeli
memujamu mereka amini !!

wahai kau yang duduk di sana
mereka luka putik indonesia
pertiwi ini juga ibu mereka.

-Sekayu, 18 April 2011



SOLILOKUI IKTIOLIT
: untuk kau

aku hanya seekor ikan yang terjerat pada jala
yang semestinya di sini ia tak ada
aku liar tak ingin kau taklukan
maka jangan kau tahan aku untuk kebebasan
meskipun aku mati, tapi aku tidak sebenar mati
sebab arwahku sekedar pergi
aku mengalir hingga kau tak bisa
tahu aku hingga kau
buta lihat aku hingga kau
lumpuh tangkap aku hingga
kau tak sampai cecap aku
hingga kau tak, kau tak
aku

-Sekayu, 20 Juli 2011

Selasa, 20 September 2011

Puisipuisi Syafriansyah, Media DinamikaNews

Dimuat Media Lampung, DinamikaNews - 12 Februari 2012



Syilogisme Sebab (1)



ada mengapa oleh sebab

ada tanya akan jawab

asal muasal kepada asal

asal angin jadilah angin

asal api sebab api

asal air sebab air

tanah menjadi tanah

cacing menjadi cacing

manusia menjadi manusia

manusia punya rindu

manusia punya benci

manusia punya cinta



asal rindu sebab rindu

sebab rindu kepada rindu

sebab benci kepada benci

benci kepada cinta

sebab cinta kepada cinta

sebab aku kepadamu kamu kepadaku

maka aku adalah kamu

maka kamu adalah aku

aku adalah tanah

kamu adalah tanah

aku menjadi manusia

kamu menjadi manusia

manusia menjadi tanah

tanah menjadi cacing

manusia menjadi cacing

cacing menjadi tanah



asal muasal adalah asal

asal angin jadilah angin

asal api sebab api

asal air sebab air

asal tanah adalah aku dan kau



( Sekayu, 19 Juli 2011 )







YANG DIHARAP GUGUR, YANG DIHARAP CUCUR*

(Buat Tri Akbarisyah)



surya tenggelam

lentera padam

berjuta kilau melesat tajam

mengiris malam



tasbihtasbih melingkar langit

cahayacahaya menumpah bumi

bismillahbismillahbismillah

cahaya merekah di rumah Allah



lentera padam

bulan temaram

pukau tekuk merapat kalam

menarung malam



tasbihtasbih melingkar langit

bismillahbismillahbismillah

syafaat kami meruah tumpah



bismillahbismillahbismillah

qalbu menetes mendesau fitrah

cucurlah susu gugurlah tuba



Allahuakbar Allahhurrahim

ya Allahhu ya Rahman ya Rahim



(Sekayu, 25 Juli 2011)





Nya



Sampai kuteguk Abatasa-Nya

Sampai kumabuk, ke dalam Allah



(Sekayu, Januari 2012)







Dosa Api Kubur



menyuling kuburkubur

dosa diderai menjadi suci

meratib arwaharwah

arwah diderai menjadi api



o dosa sepi

dosa sunyi

dosa ngeri

dosa sendiri

o api sepi

api sunyi

api ngeri

api sendiri



derai

kubur

kubur



derai

dosa

dosa



derai

derai

suci



derai

derai

api

derai

sepi

sepi

sendiri



(Sekayu, 2 Ramadhan 1432 H )







Pada KitabKu, Kitab PadaKu



ketika badai tibatiba menghempas

burungburung panik memekik cemas

ombak bergulung memecah karang

membentang tangan lintang kehancuran



tunduk pada gunung

tunduk pada langit

tunduk pada laut

tunduk pada kitabKu

tunduk paling kepadaKu



"salamun qaulan min Rabbin Rahim"



(Sekayu, 5-13 Oktober 2011)





*Puisi ini pernah dimuat Harian Musi Banyuasin.

Sabtu, 17 September 2011

Sajak, Januari - Februari 2011

Solilokui Malam 2011
: dv

hay dear…
malam ini bintang jatuh melukis wajahmu
gelasgelas yang basah, musik yang ingarbingar,
sedap asap ayam bakar, renyah tawa gadisgadis,
malam yang terlihat ramai. namun di sini
pada pertengahan malam ini
hatiku tetap kurasa kosong

jauh dari sosok gadis yang tidur di hatiku

aral duri dalam melangkah, aral cobaan dalam cinta
pertanyaan tentang sebuah kisah yang telah kita pautkan
seulas senyummu, malam yang gelap, sepotong kilas tatap matamu
apakah semua ini akan utuh?

saat aku menemukanmu
saat kau menemuiku
saat aku memilih kamu
saat kau memilih aku
saat kemudian kugenggam tanganmu
saat kemudian kaugenggam tanganku
saatsaat kita bersama

aku dapat mencintaimu, namun semakin pincang berjalan
sepotong kenangan ketika kita selalu jauh
pada malam yang dingin, cinta yang telah kuserahkan padamu
berapa lama lagi akan bertahan?

Sekayu – ( 03.04 ) 1 – 1 – 2011)


GETARAN ITU MEMBEKU

sepotong kisah yang kupenggal di dadaku
memikirkan kamu yang masih tinggal di jantungku
perlahan kopi pun telah membeku

terpejam kumeraba hamparan ruang
udara yang terserak, udara diam yang membunuhku
aku belum ingin mati, aku belum ingin mati
kubutuh dirimu untuk memberi

dapat kutangkap wangi rambutmu
wangi tubuhmu yang membisu
kutelan jauh ke dalam napasku
sebuah ruang yang jauh nun dalam
aku merasakan ketenangan di sini
namun ternyata seseorang menikamku

kudapati dada ini terbelah
jantung ini basah hitam bergetar
dirimu manis sedang tertidur
aku tersenyum menatap parasmu

basah
jantungku di atas meja
darah yang merembes merah pekat dan
dirimu tibatiba lenyap

aku ngeri dan perih
aku takut dan redup
langit perlahan meredup
bayangmu perlahan memudar
getaran itu membeku

(Sekayu- 1 – 1 – 11)


Perindu

lihat sungai bersayap pelangi dan kibasan perak di buih musi
berkeretap menangkap senja pada
perhiasan semesta yang nyata

sampan yang tertambat adalah aku
silir yang bergulir membawa rindu
dingin yang mendidih: kutanak sebagai penawar luka yang terlupa

atived… ceritakan padaku
tentang sepotong ayat jurnal
yang tak kumengerti
padamu


(Sekayu – Februari 2011)


Sungai Musi

seperti waktu yang terus membawamu menambah usia
dan mengasuhmu menuju ragam peradaban serta serupa senja
yang akan kembali kala esok dalam waktu yang meluruh
dan kau balas dengan gemuruh

kilaumu anggun menari berkelok dari kepala pagi
berpias pendar surya yang berkeretap di ari air
terus mengalir menembus sumsum peradaban jaman

berangkat dari kepahiang airmu mengalir memecah bulir
terpecahbelah menjadi delapan tangantangan remaja
yang sebagian renyah manis menyentuh sawah
menyelam kepada tanah mengirim senyum kepada
pepohonan yang semoga tak akan lekas punah

(Sekayu – Februari 2011)


TERHEMPAS

cinta meruntuhkan sayapnya
ia menyayatnyayat dengan belati
darah menetesnetes
darah merembesrembes
cinta tak lagi mau pergi
bayu kemurkaan mengempas
ringkih raganya

cinta bercermin pada langit malam
menjantang telaga kilau dipukau langit
dan batara suralaya memulai dongeng
: ‘’’anima naputu namucika motama…
hyang batari memulai tembang
: ‘’’ana mucika, ana motanama

awal lalu cinta selalu ceria
matanya kilau cerlang menyala
ekornya lapang mengibasngibas
gaib hanyut kemana hati ia mau

jauh di sana kura-kura berjalan sangat pelan
jauh di sana angin terlalu cepat memutar haluan
kini di dekatnya bencana datang menggedok pintu
ketukan yang datar

Tuk... Tuk... Tuk…

tamu ini terlalu cepat, yang terhempas
dan dongeng telah berubah haluan
dan tembang pun berputar haluan

mimpinya kini telah mati
cinta meruntuhkan sayapnya
cinta tidak lagi mau punya sayap
ia menyayatnyayatnya dengan belati
darahnya menetes
darahnya merembes


(Sekayu, 1 - 2 - 2011 )
Herdoni Syafriansyah

-
Herdoni Syafriansyah lahir di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, 7 Oktober 1991.
Ia adalah seorang muda pecinta sastra, penikmat kopi, dan penyuka pindang patin.